Malam Nisfu Sya’ban, yaitu malam tanggal 15 bulan Sya’ban, merupakan salah satu malam yang memiliki keistimewaan tersendiri dalam tradisi keislaman. Pada malam inilah Allah SWT menetapkan berbagai keputusan yang berkaitan dengan urusan manusia, seperti ajal, rezeki, serta amal perbuatan—baik maupun buruk—untuk satu tahun ke depan hingga datangnya bulan Sya’ban berikutnya.
Hal ini sebagaimana firman Allah SWT dalam Al-Qur’an:
إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةٍ مُبَارَكَةٍ إِنَّا كُنَّا مُنْذِرِينَ فِيهَا يُفْرَقُ كُلُّ أَمْرٍ حَكِيمٍ
“Sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi. Sesungguhnya Kamilah yang memberi peringatan. Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah.”
(QS. Ad-Dukhān: 3–4)
Dalam kitab Tafsir Al-Baghawi, Imam Abu Muhammad Al-Baghawi mengutip perkataan sahabat ‘Ikrimah RA:
“Yang dimaksud dengan ‘malam yang diberkahi’ adalah malam Nisfu Sya’ban. Pada malam itu ditetapkan seluruh urusan selama satu tahun, dan orang-orang yang masih hidup dipisahkan dari orang-orang yang akan meninggal.”
(Lihat: Abu Muhammad Al-Baghawi, Tafsir Al-Baghawi, Juz VII, hlm. 228)
Penutupan Catatan Amal Tahunan
Selain berkaitan dengan penetapan takdir, malam Nisfu Sya’ban juga berhubungan dengan penutupan catatan amal manusia. Amal perbuatan manusia dilaporkan secara berkala oleh para malaikat:
- Harian, pada siang dan malam hari
- Mingguan, setiap hari Senin dan Kamis
- Tahunan, pada malam Lailatul Qadar dan malam Nisfu Sya’ban
(Lihat: Sulaiman Al-Jamal, Hasyiyah Al-Jamal ‘ala Syarh Al-Manhaj, Juz II, hlm. 350)
Hal ini selaras dengan hadis Rasulullah SAW ketika Sahabat Usamah bin Zaid RA bertanya tentang puasa beliau di bulan Sya’ban. Rasulullah SAW bersabda:
ذَلِكَ شَهْرٌ يَغْفُلُ النَّاسُ عَنْهُ بَيْنَ رَجَبَ وَرَمَضَانَ، وَهُوَ شَهْرٌ تُرْفَعُ فِيهِ الْأَعْمَالُ إِلَى رَبِّ الْعَالَمِينَ، فَأُحِبُّ أَنْ يُرْفَعَ عَمَلِي وَأَنَا صَائِمٌ
“Bulan Sya’ban adalah bulan yang sering dilupakan manusia, berada di antara Rajab dan Ramadhan. Pada bulan itu amal-amal diangkat kepada Tuhan semesta alam. Maka aku ingin ketika amalku diangkat, aku dalam keadaan berpuasa.”
(HR. An-Nasa’i, As-Sunan Al-Kubra, Juz III, hlm. 176)
Besarnya Ampunan Allah pada Malam Nisfu Sya’ban
Allah SWT juga menjanjikan ampunan yang sangat luas pada malam Nisfu Sya’ban. Diriwayatkan dari Abu Musa Al-Asy’ari RA, Rasulullah SAW bersabda:
إِنَّ اللَّهَ لَيَطَّلِعُ فِي لَيْلَةِ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ فَيَغْفِرُ لِجَمِيعِ خَلْقِهِ إِلَّا لِمُشْرِكٍ أَوْ مُشَاحِنٍ
“Sesungguhnya Allah SWT memperhatikan makhluk-Nya pada malam Nisfu Sya’ban, lalu Dia mengampuni seluruh makhluk-Nya kecuali orang musyrik dan orang yang bermusuhan.”
(HR. Ibnu Majah, Sunan Ibn Majah, Juz I, hlm. 445)
Dalam riwayat lain, Sayyidah ‘Aisyah RA menceritakan bahwa suatu malam ia tidak menemukan Rasulullah SAW di rumah. Setelah mencarinya, ia mendapati Rasulullah SAW berada di pemakaman Baqi’, menengadahkan wajah ke langit dengan penuh kekhusyukan. Rasulullah SAW bersabda:
إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يَنْزِلُ لَيْلَةَ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا، فَيَغْفِرُ لِأَكْثَرَ مِنْ عَدَدِ شَعْرِ غَنَمِ كَلْبٍ
“Sesungguhnya Allah SWT menurunkan rahmat-Nya ke langit dunia pada malam Nisfu Sya’ban, lalu mengampuni dosa hamba-Nya lebih banyak daripada jumlah bulu domba Bani Kalb.”
(HR. At-Tirmidzi, Sunan At-Tirmidzi, Juz III, hlm. 107)
Amalan di Malam Nisfu Sya’ban
Untuk meraih keutamaan malam Nisfu Sya’ban, umat Islam dianjurkan memperbanyak ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah SWT. Salah satu amalan yang telah mengakar di tengah masyarakat adalah membaca Surah Yasin sebanyak tiga kali, biasanya dilakukan secara berjamaah, kemudian dilanjutkan dengan doa Nisfu Sya’ban.
Syekh Abdul Hamid bin Muhammad Quds Al-Makki dalam kitab Kanz An-Najah wa As-Surur menjelaskan niat dari tiga kali bacaan Surah Yasin tersebut, yaitu:
- Bacaan pertama diniatkan agar diberi umur panjang dalam ketaatan.
- Bacaan kedua diniatkan agar dijauhkan dari segala mara bahaya.
- Bacaan ketiga diniatkan agar tidak bergantung kepada selain Allah SWT.
(Lihat: Abdul Hamid bin Muhammad Quds Al-Makki, Kanz An-Najah wa As-Surur, Maktabah Dar al-Hawi, hlm. 48)
Perbedaan Pendapat Ulama tentang Salat Nisfu Sya’ban
Terkait salat khusus Nisfu Sya’ban, para ulama berbeda pendapat.
- Imam An-Nawawi dalam Al-Majmu’ Syarh Al-Muhadzdzab menyatakan bahwa salat Nisfu Sya’ban termasuk bid‘ah qabihah.
- Sementara Imam Abu Hamid Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulum Ad-Din dan sejumlah ulama lainnya memandangnya sebagai amalan yang dianjurkan.
Menanggapi perbedaan ini, Syekh Sulaiman Al-Kurdi menjelaskan bahwa khilaf tersebut disebabkan oleh perbedaan penilaian terhadap status hadis dan bentuk ritual yang dilakukan pada malam Nisfu Sya’ban.
(Lihat: Abu Bakar Syatha Ad-Dimyathi, I‘anah At-Thalibin, Juz I, hlm. 312)
Wallāhu a‘lam bi ash-shawāb.
Penulis: Nasikhun Amin
Editor: Way
Sc. lirboyo.net
